Wednesday, April 10, 2013
Saturday, April 6, 2013
CATATAN KULIAH RUMAH PANENHUJAN
Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Hamba Allah, dosen dan peneliti FP dan PPS UNSRI, sup_effendi@yahoo.co.id HP +6282184824570 Komplek Bukit Sejahtera Blok DM 99 RT 56 Bukit Lama Palembang 30139 Indonesia Telp +62 711 441140 Palembang, 2007Video: http://www.youtube.com/watch?v=43t8bFztUuA
PENGANTAR
Panen hujan bukan hal baru. Pemanfaatan
air hujan untuk kehidupan manusia diyakini sama tuanya dengan
kedatangan manusia pertama dani bumi. Suatu referensi terbaik dan
terlengkap tentang proses terjadinya dan manfaat air hujan bagi
kehidupan manusia tertulis dalam firman Tuhan (Al-qur’an) sejak 1400
tahun yang lalu.
Penulis dilahirkan dan dididik dari
keluarga petani di salah satu desa kecamatan Seginim kabupaten Bengkulu
Selatan Bengkulu. Ayah penulis bernama H. A. Rahim dan ibu Hj. Rahina.
Keluarga seperti itu sangat memahami makna air sebagai rahmat Tuhan
Yang Maha Pemberi Rezeki. Bila tanpa air (sering diuji dengan kemarau
panjang) maka dengan sendirinya rezeki menjadi berkurang baik dalam
jumlah dan keberkatannya. Perkenalan dengan al-qur’an surat al-ambiya
ayat 30 yang berbunyi: ”Kami jadikan semua yang hidup dari air, mengapa
kamu tidak mau beriman”, menjadikan penulis semakin memahami ”harga”
air hujan – tidak ternilai.
Sejak masih menyewa dari bedeng ke bedeng
di dasa warsa 70-an hingga 90-an penulis mempunyai cita-cita untuk
memiliki sebidang tanah di manapun berada untuk dibangun sistem panen
hujan. Sistem panen hujan yang dimaksud adalah sistem yang dibangun
untuk menampung semua air hujan yang jatuh pada lahan pekarangan dan
rumah. Alhamdulillah pada tahun 1998 bulan Agustus penulis dipertemukan
dengan tetangga di luar tembok luar kompleks tempat penulis tinggal 5
tahun sebelumnya. Dia menawarkan lahan rawa persis di berbatasan tembok
kompleks Bukit Sejahtera.
Setelah dicapai saling pengertian dan
perjuangan panjang (karena uang terbatas) maka lahan rawa dengan luas
1.440 m2 itu resmi menjadi milik keluarga. Lahan ini mulai ditata.
Prinsip “tidak menimbun bila tidak menggali” mulai diterapkan. Rawa
yang semula ditanam padi itu pada bagian tertentu digali lalu tanahnya
ditimbunkan di bagian yang lainnya. Mimpi penulis ingin membangun rumah
panen hujan mulai timbul dan tumbuh dengan subur. Pembangunan rumah
tersebut memperoleh pinjaman lunak dari Bank Sumsel Syariah Palembang.
Langkah awal yang lakukan adalah menggali
kolam di bagian timur (disepakati sebagai bagian depan) dan di bagian
barat (disepakati sebagai bagian belakang). Di bagian timur penulis
rancang sebagai kolam
(a) semua air atap ditampung
(b) dari dak palsu disalurkan dengan dengan dak palsu pipa ke penyaringan
(c) air hujan ditampung ke kolam renang
(d) hujan yang jatuh di halaman ditampung
di kolam depan rumah penampungan air hujan dari seluruh lahan. Luas
kolam ini dirancang berukuran panjang 30 m dan lebar 12 m (25% dari luas
lahan). Di bagian belakang adalah kolam penampungan air (belakangan
dijadikan kolam renang) yang berasal dari sebagian besar atap rumah.
Kolam renang ini berdimensi panjang 7 m lebar 5 m (2,5% dari seluruh
luas lahan). Daerah yang ditimbun selanjutnya ditanami sejumlah jenis
tanaman – pisang, ubikayu, sukun, kelapa, mangga, durian, pepaya dan
sebagainya.
Sekeliling bangunan dibuat dak palsu
sebagai “talang”. Alhamdulillah ¾ atap rumah sudah diarahkan saluran
pengaliran air hujan menuju “cikal bakal” kolam renang. Sisa atap yang
sudah dibuat talang berupa dak palsu sudah dibuat pipa penyalurannya
tetapi masuk ke kolam di depan rumah. Setiap terjadi hujan lebat air
hujan yang jatuh di bagian atap sebelah belakang rumah mampu
menghasilkan air pengisi kolam renang puluhan meter kubik. Sedikitnya
sekitar 6 sampai 10 meter kubik air bersih tertampung dalam kolam ini
setiap kejadian hujan. Kolam yang bisa menyampung 40 m3 itu penuh dalam
beberapa kali hujan lebat. Jumlah itu menghemat rekening ledeng hingga
Rp 300 ribu per bulan bahkan lebih besar dari jumlah itu.
TANGKI AIR BERMETER, SEBAGAI BAGIAN PANEN HUJAN
Ada yang unik dengan pembangunan sistem
panen hujan pada rumah penulis di Komplek Bukit Sejahtera blok DM 99 RT
56 Bukit Lama Palembang 30139 Indonesia. Pertama, tangki tersebut yang
dirancang bersama antara penulis dan James Miller (James adalah yunior
penulis dari University of Cranfield Inggrisn – diundang sebagai tenaga
volunter dari Silsoe Aid For Appropriate Dvelopment – SAFAD). Keunikan
Pertama adalah meter penunjuk ketinggian
muka air dalam tangki. Kedua, bentuk tangki yang bulat dan panjang –
mirip peluncur satelit). James menyarankan banyak hal tentang desain
tangki. Penulis juga melakukan yang sama. Namun, tukang kepercayaan
penulis sudah sangat pengalaman dan bila mereka (dua orang) tidak setuju
maka akan dibantahnya dan dicarikan alternatif yang dianggap paling
baik. Pembuatan meteran pembaca tinggi muka air berbeda dengan saran
semula yakni disatukan dengan pipa penyaluran air. Dengan menggunakan
elbow dan selang trasparan serta paku clamp dibuatlah meteran tersebut.
Alhamdulillah fungsinya baik dan enak dilihat. Bentuk tangki air hujan
yang bulat dan panjang menjadi daya tarik tersendiri.
Yang Menarik bahwa meskipun diameternya
hanya 2 m dan tingginya 3 m tetapi isinya bukan 6 m3 melainkan sekitar
10 m3. Ini menambah kekaguman penulis kepada sang pencipta jagad raya
yang semuanya berbentuk bola dengan demikian luas permukaannya luas dan
isinya banyak. Meski bumi dianggap planet yang berukuran “kecil”
dibanding dengan kebanyakan planet lain dalam tata surya matahari kita
namun karena bentuknya seperti bola maka diyakini bahwa dalam waktu lama
bumi tak akan penuh dengan manusia. Bumi bisa mendukung kehidupan
manusia sampai i jumlah sebanyak-banyaknya. Insya-Allah. Sejak
terbangunnya tangkii bermeter ini penulis semakin ingin mengajak semua
pihak untuk menerapkan sistem panen hujan tersebut di manapun. Tidak
urung kepala Dinas Pendidikan kota Palembang pernah menyatakan kepada
penulis tentang niat beliau untuk membangun sistem panen hujan pada
sekolah-sekolah yang ada di kota Palembang. Penulis waktu itu menjawab:
“siap pak, kami akan bantu”.
KEUNTUNGAN MENERAPKAN SISTEM PANEN HUJAN
Semua kita termasuk penulis masih senang
dengan fadhilah sesuatu amalan. Bila seseorang beriman maka selanjutnya
dia beramal shaleh. Kalau tidak maka imannya akan rusak. Karena orang
beriman mirip dengan sebatang pohon yang rindang dan kuat akarnya. Pohon
seperti itu harusnya menghasilkan buah yang disenangi lingkungannya –
manusia, binatang dan sebagainya. Buah ini sama dengan amal shaleh. Amal
shaleh yang benar harus dilengkapi dengan upaya saling berwasiat
tentang kebaikan dan saling berwasiat tentang kesabaran. Jadi tidak
lengkap bila hanya dengan memenuhi kebutuhan sendiri- tidak mengajak
orang lain. Panen hujan bukanlah hal sulit, yang penting ada kemauan.
Orang yang memahami dengan baik fadhilah sesuatu perbuatan tentu tidak
dengan serta merta pasti akan mengamalkannya (menerapkan teori yang ada
padanya). Upaya sosialisasi atau pemberian pelatihan tentang sistem
panen hujan di rumah-rumah merupakan awal yang baik. Bila telah tumbuh
kesadaran bahwa panen hujan merupakan pekerjaan mulia – baik untuk diri
sendir maupun lingkungan maka diyakini orang akan mengadopsinya. Maka
bila semua penduduk sudah banyak menerapkan sistem panen hujan tidak
saja ia akan memperoleh air hujan yang berkualitas tetapi dapat terjadi
pengurangan banjir di sekeliling tempat tinggalnya.
Bagaimana sistem panen hujan bisa
mengurangi banjir? Banjir yang dapat dikurangi dengan sistem panen hujan
tentunya banjir yang hanya disebabkan oleh air hujan. Banjir karena
limpahan air sungai akibat pasang atau banjir kiriman tidak dapat
diatasi dengan panen hujan. Ambil contoh pada areal lahan seluas 1500
m2. Pada areal seluas itu bila terjadi hujan selama 1 jam dengan
intensitas 50 mm/jam. Bila semua areal lahan itu kebanyakan merupakan
areal kedap air- atap, pelataran dari semen, jalan aspal maka nilai
karakteristik tangkapan (catchment characteristic, cc = 0,90). Dengan
demikian jumlah air yang terakumulasi dari areal lahan tersebut = 1500 x
0,90 x 50 x 0,001 m = 67,5 m3. Bila ada sistem panen hu jan dalam
bentuk kolam renang, tangki dan kolam ikan maka air dalam jumlah
tersebut tidak akan membanjiri areal lahan. Bila dari atap seluas 250 m2
semuanya masuk ke tangki dan kolam renang maka berarti air hujan yang
terpanen adalah sebanyak 1/6 x 67,5 m3 = 11,25 m3. Bila hujan dua kali
dari intensitas semula maka air hujan dengan kualitas baik yang bisa
disimpan adalah 22,5 m3. Jumlah ini sama dengan 6 tangki air PDAM. Bila 1
tangki harganya Rp 100 ribu maka keuntungan dari menampung air sama
dengan Rp 600 ribu. Angka ini hanya menggambarkan kesyukuran kita
pada-Nya.
Hujan yang dipanen secara baik dan
berkala di rumah sendiri, perkantoran, pasar, mesjid dan tempat-tempat
lainnya akan banyak selali memberi keuntungan. Keuntungan seperti ini
tentu saja berdimensi waktu yang lama namun memberikan banyak manfaat –
ekonomis, sosiologis, teologis dan ekologis. Secara ekonomis sudah tidak
bisa diragukan lagi. Air hujan memberikan keuntungan yang berlapis dan
efeknya multi. Dengan banyaknya air – ikan dan tanaman produksinya
berlimpah. Air hujan yang ditampung di kolam bisa disaring dengan
ijuk-pasir-arang-pasir-koral, hasilnya dimanfaatkan untuk mandi, cuci,
siram tanaman dan cuci kendaraan serta halaman rumah.
Tampungan air berbentuk kolam berfungsi
sebagai objek wisata yang alami. Pohon di sekitar kolam yang rindang
mengundang satwa dengan bunyi yang bermacammacam. Ada kolam berarti
memungkinkan dibangunnya air mancur dan/atau air terjun.
Kondisi seperti ini menjadikan penghuni
rumah nyaman- serasa seperti tinggal di dekat bukit/ngarai alami. Air
berisik dan terkadang ikan melompat-lompat seperti ingin bermain di
sekitar jatuhnya air.
Meminta orang sekitar untuk menangkap
ikan dengan cara tradisional – menggunakan waring besar seperti pukat
harimau – memberikan pelajaran berharga kepada penulis dan keluarga.
Tiga empat orang kepercayaan sejak lama menangkapkan ikan pada kolam di
halaman rumah yang berdimensi cukup luas dan dalam itu. Tanpa ada
perjanjian berapa ongkos untuk “bekarang” ikan itu mereka secara
sungguh-sungguh dan sabar menangkap ikan- tidak peduli dingin atau panas
matahari. Memang banyak ikan yang berhasil ditangkap. Sayang mereka
melewatkan sholat zuhur dan bahkan ashar. Pada saat salah seorang
terkena sengatan listrik karena saat terakhir mereka merasa lelah
penulis menyarankan memakai sistem “setrum”.
Menangkap ikan dengan menggunakan setrum
listrik sesungguhnya tidak dianjurkan dari aspek apapun – berbahaya bagi
penangkap ikan maupun bagi ikan itu sendiri. Bagi penangkap bahaya
setrum listrik dapat terjadi melalui sebab yang beragam – ada kabel
telanjang dan sebagainya. Waktu itu pernah satu orang kena setrum dan
hampir mati. Pada saat itulah penulis “menggugah” hatinya dengan
memberikan nasehat berupa jangan tinggalkan sholat, karena Allah masih
memberi kesempatan anda hidup. Tanpa jawaban yang pasti kecuali dia
ingin bersedekah tanda bersyukur bahwa dia masih hidup.
Pengalaman lainnya adalah bahwa ada jenis
ikan yang tidak tahan dengan himpitan derita sewaktu di-“rumah”kan
sementara pada bak air berukuran 2 m x 1 m x 1 m. Banyak ikan kecil dan
jenis tertentu yang mati. Ikan yang disetrum juga mati, tetapi ada jenis
tertentu yang tidak mati. Terangkatnya ikan-ikan dan udang kecil tanpa
diambil “pemilik” kolam menjadikan penulis sempat merenung sebagai
“pelajaran” dari Tuhan. Permisalan dari kejadian ini adalah bahwa
pemimpin umat semestinya “bijak” karena sepak terjang mereka banyak
membuat “sengsara” masyarakat kecil. Sangat sering terjadi di sekitar
kita bahwa para pemimpin sepertinya “akor-akor” tetapi pengikut mereka
saling membunuh.
Gambar
4. (a). kolam penampungan air hujan yang menjadi kolam ikan ; (b) Ikan
belida seberat 1 kg; (c) ikan patin 3 kg dan ikan seluang berukuran
jumbo; (d) udang gala
Pelajaran lainnya yang dapat dipetik dari
kolam adalah bahwa limbah domestik dari dapur ternyata tidak
“mencemari” kolam yang jumlah airnya hampir 800 m3 itu. Pelajaran ini
mungkin merupakan “amsalu” dari ayat al-qur’an yang menyatakan bahwa
perbuatan dosa dapat “dilebur” oleh adanya “danau” kebaikan. Bahkan
kedatangan “limbah” yang kotor dan jorok itu (dua hari sekali) disambut
oleh udang berbagai ukuran dan jenis, siput air, serta ikan berbagai
jenis dan ukuran. Gudang tempat air dan limbah itu ternyata sejak lama
telah Allah “sulap” menjadi rumah udang gala, ikan, siput dan
sebagainya. Tidak kurang ribuan kilogram biomassa yang lezat dan
menyehatkan itu telah membuktikan firman Tuhan
“kami_jadikan_semua_yang_hidup_dari_air” itu.
“Betapa mulianya Engkau wahai Yang Maha
Mulia”, penulis sering bergumam. Bayangkan ikan, udang dan siput yang
sering diberi hidangan -yang busuk-busuk, basi dan tidak pernah akan
dikonsumsi kembali oleh “manusia” yang mengklaim dirinya mulia itu –
tumbuh dan berkembang biak dengan aneka warna dan ukuran. Ikan patin ada
yang berukuran 3 kg, gurami sekitar 2 kg, ikan seluang yang lebih besar
dari saudaranya di sungai-sungai, udang gala dan sebagainya. Tetangga
dan para penangkap ikan bergembira dengan kehadiran ikan dan udang itu
di rumah mereka. Ikan seluang menurut salah seorang tetangga baru satu
kali ini berukuran “jumbo”.
“Subhanallah”. Melalui kebaikan Engkau ya
Allah, biomassa yang tadinya busuk itu kami makan dengan lezatnya. Ini
sama dengan pepatah yang mengatakan “keburukan dibalas dengan kebaikan”.
Lezatnya udang dari kolam “serba guna” di halaman rumah penulis itu
sempat dimakan dengan lahapnya oleh James Miller, tamu kami yang
mengundang barokah Allah yang banyak.
BAGAIMANA KUALITAS AIR HUJAN DAN KOLAM?
Penulis telah melakukan analisis fisik,
kimia dan biologis air hujan, air kolam dan air kolam yang disaring
menggunakan saringan : ijuk_pasir_arang_pasir_koral_pasir_dan_batubata.
Secara fisik, kimia dan biologis semua air hujan memenuhi syarat
kesehatan sebagai minum, sedangjkan air kolam yang dijadikan kolam ikan
tidak memenuhi persyaratan kesehatan untuk air minum. Analisis
fisik-kimia-dan-biologis air dilakukan pada Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan Palembang melalui kebaikan mitra penulis meliputi Birmansyah
dan Heri (S2 Pengelolaan Lingkungan PPS Unsri) serta Amar Muntaha
(Kandidat S3 Ilmu Lingkungan PPS Unsri).
PENUTUP
Membangun rumah sistem panen merupakan
bentuk kesyukuran kepada Tuhan Yang Maha Bersyukur. Dari konteks apa hal
itu dikatakan bersyukur. Secara hakikat, semua yang di atas permukaan
langit dan bumi serta apa-apa yang ada didalamnya bertasbih kepada Tuhan
mereka. Tasbih mereka itu paling tidak adalah “subhanallah” (maha suci
allah – tanpa kekurangan satu apapun jua). Hujan sebagai salah satu
makhluk ciptaan Tuhan tentu bertasbih. Nah bila hujan “bertamu” ke
halaman, ke atap atau ke atas lahan pertanian kita maka sebaik-baik
“tuan rumah” adalah mereka yang melayani “tamunya” dengan baik. Allah
sangat senang yang memuliakan tamu karena hal itu adalah bagian dari
tanda syukur kepada-Nya.
Penulis berkeyakinan bahwa dengan
kesyukuran di atas maka Allah telah menganugerahkan banyak sekali rezeki
– melalui upaya panen hujan – pohon buah tumbuh subur, banyak burung
yang datang dengan suara yang merdu, ikan dan udang beraneka-ragam,
ditambah banyak tamu yang berkunjung dan sebagainya. Pemilik rumah dan
rumah itu sendiri sering dipotret oleh wartawan dan gambarnya dimuat di
harian, majalah, televisi dan sebagainya. “Maka nikmat mana lagi yang
masih kamu dustakan?”. QS surat ar-rohman. Mari kita tunaikan tugas kita
dengan baik – sebagai khalifah, hamba Allah dan da’i ilallah.
Bila anda punya ilmu pengetahuan dan
teknologi tentang apa saja maka yang penting adalah bagaimana ilmu yang
diperoleh itu disyukuri dengan jalan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Demikian juga dengan sistem panen hujan ini setelah anda
paham maka penulis ingin mengajak untuk menerapkannya. Mulailah dari
yang kecil, mulailah sekarang dan anjurkanlah kepada orang lain. Di sini
akan berlaku ilmu yang bermanfaat dan amal jariah. Wassalamu alaikum,
walhamdulillahirabbil ‘alamin.
Penulis,
H. Supli Effendi Rahim; Desember 2007; zulhijjah 1428 H Dedicated sincerely to my lates mother and father in_law: Hj Umi Kalsum, H. Damiri Rais, grand fathers Merinsan & Hamzah, grand mother Muntianan & Nurmima, Father H. Rahim, mother Hj. Rahina, sister Asmiti: last not least my wife Dr. Hj. Nurhayati & all children; my adopted father & mother H. Rohimi & family; bothers and sisters; all of my teachers in Palembang, Bengkulu and Bedford England.
H. Supli Effendi Rahim; Desember 2007; zulhijjah 1428 H Dedicated sincerely to my lates mother and father in_law: Hj Umi Kalsum, H. Damiri Rais, grand fathers Merinsan & Hamzah, grand mother Muntianan & Nurmima, Father H. Rahim, mother Hj. Rahina, sister Asmiti: last not least my wife Dr. Hj. Nurhayati & all children; my adopted father & mother H. Rohimi & family; bothers and sisters; all of my teachers in Palembang, Bengkulu and Bedford England.
RUMAH PANEN HUJAN ATAU RUMAH LESTARI
Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Sumber: http://suplirahim.multiply.com/
Sejak pendidikan di Inggris pada era
1980-1990 saya banyak merenung dan merenung. Salah satu renungan saya
kala itu adalah bahwa Inggris mempunyai curah hujan yang relatif rendah
yakni sekitar 700 mm per tahun. Jumlah ini hanya sekitar 25% dari apa
yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Di negara kita curah
hujan tahunan berkisar antara 1500 mm di bagian timur dan dapat mencapai
4500 mm di bagian barat Indonesia.
Dengan curah hujan yang jauh lebih rendah
dibandingkan curah hujan negara kita ternyata Inggris jarang mengalami
kekurangan air bersih (air ledeng). Selidik punya selidik ternyata
mereka sudah mengerti dengan pesan dari langit – Tuhan. Meskipun mereka
juga dikenal dengan negara “godless country” tetapi dalam konteks ini
mereka memahami pesan Tuhan mereka – bersyukur dengan pemberian Tuhan.
Tuhan memberi mereka curah hujan yang mencukupi. Mengapa bisa mencukupi?
Ternyata mereka memanen hujan antara lain
dalam bentuk “runoff harvesting” (panen air limpasan). Di mana-mana
dibangun danau buatan. Dengan danau yang berukuran raksasa yang menyebar
di seluruh negeri maka kebutuhan air untuk irigasi dan untuk kebutuhan
lainnya menjadi tercukupi. Air bersih yang mereka distribusikan kepada
pelanggan juga didaur ulang sekian kali.
Kondisi kontras ternyata terjadi di tanah
air kita. Kalau musim penghujan air hujan membentuk air bah (banjir).
Sebaliknya di musim kemarau ketiadaan air untuk mandi, cuci dan kakus
(MCK) merupakan menjadi hal biasa. Dengan kondisi begini berarti tanaman
dan hewan ternak tentu jauh dari kecukupan air. Banyak ternak, kolam
ikan dan tanaman menjadi kekurangan air. Ironis bukan?
Beranjak dari kondisi itu saya berfikir
dan bekerja keras. Yang saya lakukan adalah membangun opini di
masyarakat tentang bagaimana mengubah fenomena banjir dan kekeringan ini
tidak lagi menjadi fenomena derita. Walaupun tidak bisa meniadakan
banjir dan kekeringan, tetapi saya ingin sekali banyak pihak menjadi
sadar bahwa air yang dikirim ke bumi dari langit bukan laknat tetapi
merupakan rahmat. Sebaliknya kekeringan di musim kemarau merupakan era
di mana radiasi matahari merupakan sumber energi yang sangat baik untuk
berlangsungnya fotosintesis. Dari proses ini dihasilkan banyak senayawa
organik seperti karbohidrat, lemak dan protein. Yang dibutuhkan adalah
khlorofil. Khlorofil terbentuk bila cukup air. Karena itu bila air
ditampung selama musim hujan, maka akan banyak manfaatnya di musim
kemarau.
Mencoba agar fenomera tersebut menjadi
kenyataan saya diberi kesempatan oleh Allah, Tuhan yang maha kuasa untuk
memodifikasi rumah sebagai ajang “kemarahan” saya dengan sulitnya
meminta dukungan dari banyak pihak untuk membangun rumah panen hujan.
Terus terang saya mempunyai uang terbatas yang tidak terbatas pada diri
saya dan keluarga adalah semangat dan kasih sayang sesama. Pada tahun
1998. Saya menemukan lahan rawa di pinggir kompleks perumahan Bukit
Sejahtera Palembang, tepatnya di sebelah rumah nomor DN 22, DN 23 dan DM
4. Lahan ini memanjang berukuran 59 m dan lebar 24 m. Luas lahan ini
sekitar 1440 m2. Lahan ini memanjang dari timur ke barat.
Bagi saya lahan ini sangat tepat karena
lahan ini merupakan tempat air (tangkapan) sewaktu musim penghujan.
Untuk itu saya harus menggunakan prinsip “menggali bila ingin menimbun”.
Alhamdulilah setelah lahan saya tata di mana untuk rumah di mana untuk
kolam, maka di sepakati bahwa rencana bangunan rumah saya letakkan di
bagian barat dan di bagian timur kolam ikan. Rencana rumah nantinya di
bagian belakang akan dibangun kolam renang yang saya rencanakan berguna
multi guna yakni sebagai sumber air untuk cuci pakaian, untuk
penampungan air hujan dan kolam untuk mandi.
Kolam ikan di bagian timur juga saya akan
gunakan dengan multi-guna yakni sebagai tempat penampungan ir hujan
dari seluruh areal, tempat penampungan limbah domestik dan tempat
membesarkan berbagai jenis ikan serta tempat rekreasi. Belakangan air
kolam itu menjadi sumber air yang baik untuk cuci kendaraan dan sumber
irigasi untuk tanaman.
Setelah enam tahunan berksperimen saya
mulai “membangun” rumah panen hujan yang saya telah lama saya
rencanakan. Rumah itu atapnya akan saya lengkapi dengan dak-dak palsu
sebagai talang untuk penampungan air hujan. Nah tahun 2006 semua selesai
dan air hujan ternyata dengan curah hujan gerimis sampai lebat akan
terkumpul di kolam renang belakang rumah. Semua bisa mandi, tetapi ada
sedikit yang tidak baik yakni rekening air ledeng saya tinggal 30 a/d 40
persen dibandingkan bila saya tidak mengunakan rumah panen hujan ini.
Mudah2an tidak menjadikan teman2 di PDAM kecewa. Tetapi dalam fikiran
saya bila ini ditiru jutaan rumah di seluruh tanah air dan bahkan dunia
maka fenomena banjir dan kekeringan akan menjadi berkurang. Ok pembaca
nanti saya akan cerita lebih lengkap. Wass.
videonya boleh ditengok di sini: http://www.youtube.com/watch?v=43t8bFztUuARumah Panen Hujan
Oleh: H. Supli Effendi Rahim
Sumber: http://suplirahim.blogspot.com/
Suatu hari di akhir November 2009 saya
mengundang mahasiswa S3 PPS Unsri untuk datang ke rumah kami di Poligon
blok DM 99 Palembang. Tujuannya tidak lain adalah silaturahim sambil
melakukan kuliah lapangan. Sejumlah 11 mahasiswa hadir kecuali satu
orang pulang kampung ke padang. hadir juga dalam kongko-kongko di teras
rumah istri saya itu sejumlah mahasiswa ekstension FT Unsri yang
dibimbing oleh kandidat doktor Reni Yunan.
Pertemuan yang sederhana penuh canda itu dimulai dengan sambutan saya tuan rumah tentang rumah panen hujan.
Cerita dimulai dengan ungkapan bahwa saya
sudah lama sekali memahami fenomena pengelolaan rawa yang ramah
lingkungan dikaitkan dengan rumah panen hujan. Ada sejumlah latar
belakang mengapa saya tertarik dengan pembangunan rumah panen hujan
tersebut.
Pertama, negara kita – Indonesia – selalu
mengalami peristiwa banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim
kemarau. Berdasarkan hasil kajian atau analisis terhadap neraca air di
kawasan bukit besar dan sekitarnya maka sangat jelas bahwa kawasan di
mana rumah di bangun itu mengalami surplus positif pada bulan-bulan
Oktober sampai April, sebaliknya surplus negarif pada bulan-bulan Mei
sampai September.
Kedua, saya ingin sekali membangun rumah
sebagai contoh kepada masyarakat luas yang memanen hujan dengan berbagai
cara, selain itu juga dapat mengolah air limbah domestik. Sudah
merupakan fenomena yang sangat menyedihkan pada waktu hujan lebat air
mengalir bebas dan terkadang sempat membanjiri daerah sekitar, sedangkan
pada musim kemarau kekeringan. Bila demikian maka ada kesan bahwa air
menjadi tidak bermanfaat tetapi sering juga menjadi sumber mudarat.
Ketiga, Kalau masa sekarang atau masa
yang akan datang konsep rumah panen hujan ini sudah menjadi budaya
sebagian besar masyarakat di suatu DAS maka diyakini bahwa tidak saja
bahaya banjir bisa dielakkan tetapi juga halaman rumah adalah sumber
pendapatan keluarga sekaligus terkendalinya pencemaran lingkungan.
Atas dasar tiga hal itu di samping pertimbangan lain, saya dan keluarga bersepakat untuk membangun rumah rumah panen tersebut.
Pertama, dalam pembangunan itu dilakukan
penataan ruang (spatial arrangement). Dari luas tanah yang dulunya
adalah rawa dengan kedalaman genangan tertinggi adalah 30 cm direkam
bahwa lahan itu pada awalnya adalah tempat peresapan air sebanyak 450
m3. Dari perhitungan neraca air yang merupakan penghitungan berapa air
yang masuk, berapa yang keluar, dan berapa yang dapat ditampung dengan
berabagai cara (tangki, sumur, kolam renang dan kolam ikan) diperoleh
angka untuk pembangunan kolam ikan. Kolam ikan yang direncanakan
mempunyai fungsi yang banyak antara lain penampungan semua air yang
masuk kawasan itu (air hujan dan air limbah domestik). Disepakati bahwa
kolam itu berdimensi 30 m x 10 m x 4 m atau mempunyai kapasitas tampung
1200 m3. Luas kolam ini lebih kurang 25% dari luas seluruh areal. Tanah
dari hasil galian kolam itu selanjutnya digunakan untuk menimbun areal
75% dengan ketinggian sekitar 100 cm dibandingkan dengan ketinggian
permukaan tanah alami.
(akan dilanjutkan)
Friday, April 5, 2013
e-government
BERBUAT UNTUK ALAM DAN PUBLIK
Friday, 17 May 2013
<p>Your browser does not support iframes.</p>
<p>Your browser does not support iframes.</p>
Dipromosikan
oleh Supli Effendi Rahim
Jika membeli di toko pertanian rp 25.000 per liter.
Berarti ini peluang untuk membuat sendiri dong. Nah, mesti coba.. buat kemasan
baru, label baru, promosikan.. insya allah jadi pengusaha baru... Pada hal kegunaannya banyak sekali, sebut
saja.. untuk WC yang bau, kandang ayam yang bau, kandang kelinci, kambing,
darah ikan/ayam, di mana-mana yang bau..got, tempat jual ayam dll... diperlukan
orang yang punya watak peneliti, pengusaha dll...pasti dilahapnya infotek
ini... selamat mencoba dan berhasi..... yang jadi orang kaya, harap kirim upeti
ke saya ya hehe...
CARA-CARA PEMBUATAN EM4
Sebagai starter mikroorganisme pada
proses dekomposer EM4 menjadi begitu penting dalam dunia pertanian organik.
Jika kita harus membeli EM4 tersebut harganya lumayan mahal, padahal ada
berbagai cara untuk membuat EM4 sendiri dengan harga bahan baku yang sangat
murah. Ada lima cara pembuatan EM4 yang dapat kita lakukan sebagai berikut:
CARA ke-1
Bahan - bahan :
Pepaya matang atau kulitnya 0,5 kg
Pisang matang atau kulitnya 0,5 kg
Nanas matang atau kulitnya 0,5 kg
Kacang panjang segar 0,25 kg
Kangkung air segar 0,25 kg
Batang pisang muda bagian dalam 1,5 kg
Gula pasir 1 kg
Air tuak dari nira / Air kelapa 0,5 liter
Cara Pembuatan :
Pepaya, pisang, nanas, kacang panjang, kangkung dan batang pisang muda dihancurkan hingga ukuran menjadi agak halus. Buah harus yang sudah matang atau dapat juga digunakan kulit buah yang tidak dimakan.
Setelah dihancurkan, campuran bahan tersebut dimasukkan dalam ember.
Campurkan gula pasir dan tuak/air kelapa dalam ember tadi dan aduk hingga rata.
Wadah ditutup rapat dan disimpan selama 7 hari
Setelah 7 hari larutan yang dihasilkan dikumpulkan secara bertahap setiap hari hingga habis.
Larutan tersebut disaring dan dimasukkan kedalam wadah yang tertutup rapat. Larutan tersebut adalah EM4 yang siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan.
Ampas dari hasil penyaringan larutan bisa digunakan sebagai pupuk kompos.
CARA ke-1
Bahan - bahan :
Pepaya matang atau kulitnya 0,5 kg
Pisang matang atau kulitnya 0,5 kg
Nanas matang atau kulitnya 0,5 kg
Kacang panjang segar 0,25 kg
Kangkung air segar 0,25 kg
Batang pisang muda bagian dalam 1,5 kg
Gula pasir 1 kg
Air tuak dari nira / Air kelapa 0,5 liter
Cara Pembuatan :
Pepaya, pisang, nanas, kacang panjang, kangkung dan batang pisang muda dihancurkan hingga ukuran menjadi agak halus. Buah harus yang sudah matang atau dapat juga digunakan kulit buah yang tidak dimakan.
Setelah dihancurkan, campuran bahan tersebut dimasukkan dalam ember.
Campurkan gula pasir dan tuak/air kelapa dalam ember tadi dan aduk hingga rata.
Wadah ditutup rapat dan disimpan selama 7 hari
Setelah 7 hari larutan yang dihasilkan dikumpulkan secara bertahap setiap hari hingga habis.
Larutan tersebut disaring dan dimasukkan kedalam wadah yang tertutup rapat. Larutan tersebut adalah EM4 yang siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan.
Ampas dari hasil penyaringan larutan bisa digunakan sebagai pupuk kompos.
CARA ke-2
Bahan-bahan :
Susu sapi atau susu kambing murni.
Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus.
Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih.
Alat-alat yang diperlukan :
Panci,
kompor
Blender/parutan untuk menghaluskan nanas.
Cara Pembuatannya :
Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan.kemudian ditambahkan susu, isi usus ayam atau kambing.Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung.Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.
CARA ke-3
Bahan-bahan :
Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.)
Bekatul, secukupnya
Gula merah, sedikit saja
Air beras, secukupnya
Cara Pembuatan :
Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu.
Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2.
Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3.
Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.
CARA ke-4
Bahan-bahan :
Susu sapi atau susu kambing murni.
Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus.
Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih.
Alat-alat yang diperlukan :
Panci,
kompor
Blender/parutan untuk menghaluskan nanas.
Cara Pembuatannya :
Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan.kemudian ditambahkan susu, isi usus ayam atau kambing.Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung.Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.
CARA ke-3
Bahan-bahan :
Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.)
Bekatul, secukupnya
Gula merah, sedikit saja
Air beras, secukupnya
Cara Pembuatan :
Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu.
Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2.
Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3.
Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.
CARA ke-4
Bahan – bahan :
Air cician beras ( leri ) = 5 liter
Air kelapa = 5 liter
Cincangan halus sampah sayur = 3 kg
Kulit Jeruk = seadanya
Ragi tempe = 1 butir
Cairan Gula Jawa/Merah = 1 kg
Cara Pembuatan :
Semua bahan dicampur dan di aduk rata. Tutup rapat dengan perlakuan setiap 4 hari tutup dibuka untuk mengeluarkan gas. Pada hari ke -17 EM4 sudah jadi.
Air cician beras ( leri ) = 5 liter
Air kelapa = 5 liter
Cincangan halus sampah sayur = 3 kg
Kulit Jeruk = seadanya
Ragi tempe = 1 butir
Cairan Gula Jawa/Merah = 1 kg
Cara Pembuatan :
Semua bahan dicampur dan di aduk rata. Tutup rapat dengan perlakuan setiap 4 hari tutup dibuka untuk mengeluarkan gas. Pada hari ke -17 EM4 sudah jadi.
CARA ke- 5
Bahan – bahan :
Gula pasir/merah = 1kg
Terasi = ¼ kg
Dedak = 1 ½ kg
Ragi tape = 15 butir
Air biasa = 5 liter
Cara Pembuatan :
Air di rebus sampai mendidih lalu angkat dari tungku lalu campur terasi, dedak dan gula pasir aduk samapi rata. Tunggu 3-4 jam setelah larutan dingin lalu masuk kan ragi tape yang sudah di tumbuk halus. Masukkan dalam ember tertutup rapat simpan di tempat lembab. Kurang lebih 15 hari EM4 siap di gunakan.
Bahan – bahan :
Gula pasir/merah = 1kg
Terasi = ¼ kg
Dedak = 1 ½ kg
Ragi tape = 15 butir
Air biasa = 5 liter
Cara Pembuatan :
Air di rebus sampai mendidih lalu angkat dari tungku lalu campur terasi, dedak dan gula pasir aduk samapi rata. Tunggu 3-4 jam setelah larutan dingin lalu masuk kan ragi tape yang sudah di tumbuk halus. Masukkan dalam ember tertutup rapat simpan di tempat lembab. Kurang lebih 15 hari EM4 siap di gunakan.
APA SAJA APLIKASI EM-4 DI BIDANG PERTANIAN?
Manfaat :
Memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi.
Memfermentasi dan mendekomposisi bahan organik tanah dengan cepat (Bokashi).
Menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Meningkatkan keragaman mikroba yang menguntungkan di dalam tanah.
Tanaman
Padi, Palawija, Sayuran, bunga dan tanaman setahun lainnya.
Dosis dan Perlakuan
Sebagai pupuk dasar, gunakan BOKASHI sebanyak 3-5 ton per Ha. Untuk penyemprotan gunakan EM-4 sebanyak 3-10 ml per liter air dilakukan setiap satu minggu sekali, disemprotkan secara merata ke tanah dan tubuh tanaman.
APA SAJA APLIKASI EM-4 DI BIDANG PETERNAKAN?
Manfaat :
Mengurangi polusi bau khususnya pada kandang ternak dan lingkungan sekitarnya.
Mengurangi stres pada ternak
Menyehatkan ternak
Menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak
Meningkatkan nafsu makan ternak
Menekan penyakit pada ternak
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ternak
Cara Pemakaian :
Sebagai air minum ternak, Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air minum setiap hari.
Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air, kemudian disemprotkan ke dalam pakan ternak.
Untuk mencegah bau kotoran dan kandang ternak, larutkan EM-4 dan Molas ke dalam air dengan perbandingan 1:1:100 kemudian disimpan dalam tempat yang tertutup rapat selama 1-2 hari kemudian dipergunakan untuk menyemprot kandang dan pada badan ternak dengan dosis 10 cc larutan dalamn 1 liter air.
Mengurangi polusi bau khususnya pada kandang ternak dan lingkungan sekitarnya.
Mengurangi stres pada ternak
Menyehatkan ternak
Menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak
Meningkatkan nafsu makan ternak
Menekan penyakit pada ternak
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ternak
Cara Pemakaian :
Sebagai air minum ternak, Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air minum setiap hari.
Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air, kemudian disemprotkan ke dalam pakan ternak.
Untuk mencegah bau kotoran dan kandang ternak, larutkan EM-4 dan Molas ke dalam air dengan perbandingan 1:1:100 kemudian disimpan dalam tempat yang tertutup rapat selama 1-2 hari kemudian dipergunakan untuk menyemprot kandang dan pada badan ternak dengan dosis 10 cc larutan dalamn 1 liter air.
APA SAJA APLIKASI EM-4 DI BIDANG
PERIKANAN?
Manfaat :
Memperbaiki mutu air tambak.
Menguraikan bahan-bahan sisa makanan, kotoran udang / ikan menjadi senyawa organik yang bermanfaat.
Menekan serangan mikroorganisme patogen.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tambak.
Menekan hama dan penyakit
Cara Pemakaian :
Pada saat pengolahan dasar tambak diberikan Bokashi sebanyak 5 ton/ha, selanjutnya disiram larutan EM-4 sebanyak 4 liter/ha dan dibiarkan selama 2 minggu.
Pada saat masa pertumbuhan diberikan EM-4 sebanyak 16 liter per hektar.
Interval waktu pemberian EM-4 adalah 1 bulan sekali atau tergantung pada kondisi air tambak
Manfaat :
Memperbaiki mutu air tambak.
Menguraikan bahan-bahan sisa makanan, kotoran udang / ikan menjadi senyawa organik yang bermanfaat.
Menekan serangan mikroorganisme patogen.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tambak.
Menekan hama dan penyakit
Cara Pemakaian :
Pada saat pengolahan dasar tambak diberikan Bokashi sebanyak 5 ton/ha, selanjutnya disiram larutan EM-4 sebanyak 4 liter/ha dan dibiarkan selama 2 minggu.
Pada saat masa pertumbuhan diberikan EM-4 sebanyak 16 liter per hektar.
Interval waktu pemberian EM-4 adalah 1 bulan sekali atau tergantung pada kondisi air tambak
CARA PEMBIAKAN BAKTERI EM-4
Bagi kita-kita mahasiswa yang ingin menghemat biaya untuk pembelian EM4, anda bisa mengembangbiakan bakteri tersebut sendiri di rumah, sehingga bila kebutuhan akan pupuk organik cukup banyak dikarenakan luas lahan yang besar maka akan segera terpenuhi tanpa biaya tambahan.
Sebenarnya cara pengembangbiakan bakteri ini cukup banyak antara lain :
Sebelum ke tahap lebih lanjut silahkan kita sediakan bahan untuk prakteknya diantaranya :
1 liter bakteri yang akan diperbanyak
Siapkan sedikitnya 3 kg bekatul (jangan sampai kurang)
Siapkan ¼ kg gula merah bila tidak ada bisa pakai gula pasir atau tetes tebu, salah satu aja
Siapkan ¼ kg terasi
Siapkan 5 liter air
Setelah semua bahan diatas tersedia, kini kita harus menyiapkan bahan untuk media pembiakan, diantaranya :
Ember plastik
Pengaduk atau centong
Panci untuk pemasak air
Botol plastik atau kaca penyimpan
Siapkan Saringan dari kain atau kawat kasa
Bila bahan sudah semua terkumpul kini waktunya kita membuat adonan, kita bisa memulai dengan poin- poin sebagai berikut :
Air yang 5 liter tadi dimasak sampai benar-benar mendidih.
Setelah air mendidih kita bisa memasukkan terasi, bekatul dan gula, untuk yang memakai gula merah harus dihancurkan dulu sampai halus, lalu aduk adonan hingga rata.
Setelah adonan benar-benar rata lalu dinginkan sampai benar-benar dingin, bila tidak benar-benar dingin, adonan justru akan membunuh biang bakteri yang akan kita biakkan.
Bila sudah benar-benar dingin Mulai masukkan bakteri dan aduk adonan sampai benar-benar rata. Lalu ditutup rapat selama 2 hari dua malam.
Mulai hari ketiga tutup agak dilonggarkan dan diaduk rutin setiap hari sekitar 10 menit.
Bila sudah jadi yaitu sekitar 3-4 hari bakteri hasil pengembangan ini sudah bisa diambil dengan disaring memakai saringan, kemudian disimpan dalam botol yang sudah kita sediakan tadi, usahakan jangan ditutup terlalu rapat, atau biarkan saja botol terbuka, ini dimaksudkan agar bakteri tetap mendapatkan oksigen yang baik.
Tahap terakhir, botol bakteri tersebut siap untuk digunakan untuk membuat kompos atau pupuk cair maupun pupuk hijau.
Ampas hasil saringan jangan dibuang karena dapat kita gunakan lagi untuk membiakkan tahap selanjutnya, kita tinggal menyiapkan air kurang lebih 1 liter lalu menambahkan air matang dingin dan gula.
APA SAJA KEGUNAAN LAIN EM4?
Selain untuk pembuatan bokashi, EM4 dapat juga digunakan sebagai pestisida organic seperti EM5, super EM5, EMRAS dan pestisida alami dari ekstrak tanaman. EM5 digunakan sebagai pestisida untuk penanggulangan hama dan penyakit tahap awal. Sedangkan Super EM5 digunakan untuk menanggulangi hama dan penyakit pada tahap kronis.
EM5 DAN SUPER EM5
Bahan yang digunakan :
Molases/gula, cuka makan/cuka aren 5%, alcohol 40% masing-masing sebanyak 100 ml.
EM4 100 ml dan air sebanyak 1 liter. (Khusus untuk pembuatan super EM5 tidak digunakan air).
Cara pembuatan :
Semua bahan dimasukkan ke dalam botol/jerigen. Selama 15 hari selanjutnya wadah dikocok pada pagi dan sore harinya. Unttuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi, tutup botol dibuka sebentar.
Kegiatan pengocokan dihentikan pada hari ke 15 setelah tidak ada lagi gas yang terbentuk. Selanjutnya dibiarkan selama tujuh hari. Selanjutnya EM5 dapat digunakan.
Dosis pemakaian :
EM5: 10-50 ml (2-10 sdm)/l air + 10-50 ml molasses.
Super EM5: 5 ml (1 sdm)/l air + 5 ml molasses.
Waktu pengaplikasian :
Waktu pengaplikasian EM5 dan super EM5 sebaiknya dilakukan pada sore hari. EM5 dan super EM5 digunakan paling lama tiga bulan.
EMRAS (EM4 dengan air beras)
Bahan yang digunakan :
bahan yang digunakan terdiri dari air beras sebanyak 1 l, molasses\gula sebanyak 10 ml dan EM4 sebanyak 10 ml (2 sdm).
Cara pembuatan dan aplikasi :
Bahan-bahan tersebut di atas dicampurkan semuanya dan selanjutnya dibiarkan selama dua hari. Setelah itu EMRAS dapat diaplikasikan. Namun EMRAS harus sudah habis diaplikasikan pada hari ketiga (satu hari setelah proses pembuatan selesai). Selain sebagai pestisida, EMRAS dapat juga digunakan sebagai pupuk.
Dosis pemakaian :
Dosis yang digunakan adalah 5 ml/l air.
PESTISIDA ALAMI DARI EKSTRAK TANAMAN
Bahan yang digunakan :
Daun legum/kacang-kacangan (kacang babi), terutama yang masih muda.
EM4 sebanyak 20 ml/l air.
Cara pembuatan :
Daun-daunan dicincang dan selanjutnya diberi larutan EM4. Bahan selanjutnya direndam selama 3-5 hari. Selama direndam bahan ditutupi dengan plastik hitam. Setelah lima hari larutan dapat digunakan sebagai pestisida.
Mudah dan bermanfaat bukan? Ayo buruan. Nggak pantas di
negara kita yang kaya ini orangnya miskin, bau dan kumuh. Do it now, yo will
get it.
BERBUAT UNTUK ALAM DAN PUBLIK
Friday, 17 May 2013
<p>Your browser does not support iframes.</p>
<p>Your browser does not support iframes.</p>
Dipromosikan
oleh Supli Effendi Rahim
Jika membeli di toko pertanian rp 25.000 per liter.
Berarti ini peluang untuk membuat sendiri dong. Nah, mesti coba.. buat kemasan
baru, label baru, promosikan.. insya allah jadi pengusaha baru... Pada hal kegunaannya banyak sekali, sebut
saja.. untuk WC yang bau, kandang ayam yang bau, kandang kelinci, kambing,
darah ikan/ayam, di mana-mana yang bau..got, tempat jual ayam dll... diperlukan
orang yang punya watak peneliti, pengusaha dll...pasti dilahapnya infotek
ini... selamat mencoba dan berhasi..... yang jadi orang kaya, harap kirim upeti
ke saya ya hehe...
CARA-CARA PEMBUATAN EM4
Sebagai starter mikroorganisme pada
proses dekomposer EM4 menjadi begitu penting dalam dunia pertanian organik.
Jika kita harus membeli EM4 tersebut harganya lumayan mahal, padahal ada
berbagai cara untuk membuat EM4 sendiri dengan harga bahan baku yang sangat
murah. Ada lima cara pembuatan EM4 yang dapat kita lakukan sebagai berikut:
CARA ke-1
Bahan - bahan :
Pepaya matang atau kulitnya 0,5 kg
Pisang matang atau kulitnya 0,5 kg
Nanas matang atau kulitnya 0,5 kg
Kacang panjang segar 0,25 kg
Kangkung air segar 0,25 kg
Batang pisang muda bagian dalam 1,5 kg
Gula pasir 1 kg
Air tuak dari nira / Air kelapa 0,5 liter
Cara Pembuatan :
Pepaya, pisang, nanas, kacang panjang, kangkung dan batang pisang muda dihancurkan hingga ukuran menjadi agak halus. Buah harus yang sudah matang atau dapat juga digunakan kulit buah yang tidak dimakan.
Setelah dihancurkan, campuran bahan tersebut dimasukkan dalam ember.
Campurkan gula pasir dan tuak/air kelapa dalam ember tadi dan aduk hingga rata.
Wadah ditutup rapat dan disimpan selama 7 hari
Setelah 7 hari larutan yang dihasilkan dikumpulkan secara bertahap setiap hari hingga habis.
Larutan tersebut disaring dan dimasukkan kedalam wadah yang tertutup rapat. Larutan tersebut adalah EM4 yang siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan.
Ampas dari hasil penyaringan larutan bisa digunakan sebagai pupuk kompos.
CARA ke-1
Bahan - bahan :
Pepaya matang atau kulitnya 0,5 kg
Pisang matang atau kulitnya 0,5 kg
Nanas matang atau kulitnya 0,5 kg
Kacang panjang segar 0,25 kg
Kangkung air segar 0,25 kg
Batang pisang muda bagian dalam 1,5 kg
Gula pasir 1 kg
Air tuak dari nira / Air kelapa 0,5 liter
Cara Pembuatan :
Pepaya, pisang, nanas, kacang panjang, kangkung dan batang pisang muda dihancurkan hingga ukuran menjadi agak halus. Buah harus yang sudah matang atau dapat juga digunakan kulit buah yang tidak dimakan.
Setelah dihancurkan, campuran bahan tersebut dimasukkan dalam ember.
Campurkan gula pasir dan tuak/air kelapa dalam ember tadi dan aduk hingga rata.
Wadah ditutup rapat dan disimpan selama 7 hari
Setelah 7 hari larutan yang dihasilkan dikumpulkan secara bertahap setiap hari hingga habis.
Larutan tersebut disaring dan dimasukkan kedalam wadah yang tertutup rapat. Larutan tersebut adalah EM4 yang siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan.
Ampas dari hasil penyaringan larutan bisa digunakan sebagai pupuk kompos.
CARA ke-2
Bahan-bahan :
Susu sapi atau susu kambing murni.
Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus.
Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih.
Alat-alat yang diperlukan :
Panci,
kompor
Blender/parutan untuk menghaluskan nanas.
Cara Pembuatannya :
Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan.kemudian ditambahkan susu, isi usus ayam atau kambing.Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung.Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.
CARA ke-3
Bahan-bahan :
Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.)
Bekatul, secukupnya
Gula merah, sedikit saja
Air beras, secukupnya
Cara Pembuatan :
Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu.
Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2.
Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3.
Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.
CARA ke-4
Bahan-bahan :
Susu sapi atau susu kambing murni.
Isi usus (ayam/kambing), yang dibutuhkan adalah bakteri di dalam usus.
Seperempat kilogram terasi (terbuat dari kepala/kulit udang, kepala ikan) + 1 kg Gula pasir (perasan tebu) + 1 kg bekatul + 1 buah nanas + 10 liter air bersih.
Alat-alat yang diperlukan :
Panci,
kompor
Blender/parutan untuk menghaluskan nanas.
Cara Pembuatannya :
Trasi, gula pasir, bekatul, nanas (yang dihaluskan dengan blender) dimasak agar bakteri lain yang tidak diperlukan mati. Setelah mendidih, hasil adonannya didinginkan.kemudian ditambahkan susu, isi usus ayam atau kambing.Ditutup rapat. Setelah 12 jam timbul gelembung-gelembung.Bila sudah siap jadi akan menjadi kental/lengket. Perlu diperhatikan susu jangan yang sudah basi karena kemampuan bakteri sudah berkurang. Sedangkan kegunaan nanas adalah untuk menghilangkan bau hasil proses bakteri.
CARA ke-3
Bahan-bahan :
Sampah sayur, terutama kacang-kacangan
Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.)
Bekatul, secukupnya
Gula merah, sedikit saja
Air beras, secukupnya
Cara Pembuatan :
Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu.
Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2.
Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3.
Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4.
CARA ke-4
Bahan – bahan :
Air cician beras ( leri ) = 5 liter
Air kelapa = 5 liter
Cincangan halus sampah sayur = 3 kg
Kulit Jeruk = seadanya
Ragi tempe = 1 butir
Cairan Gula Jawa/Merah = 1 kg
Cara Pembuatan :
Semua bahan dicampur dan di aduk rata. Tutup rapat dengan perlakuan setiap 4 hari tutup dibuka untuk mengeluarkan gas. Pada hari ke -17 EM4 sudah jadi.
Air cician beras ( leri ) = 5 liter
Air kelapa = 5 liter
Cincangan halus sampah sayur = 3 kg
Kulit Jeruk = seadanya
Ragi tempe = 1 butir
Cairan Gula Jawa/Merah = 1 kg
Cara Pembuatan :
Semua bahan dicampur dan di aduk rata. Tutup rapat dengan perlakuan setiap 4 hari tutup dibuka untuk mengeluarkan gas. Pada hari ke -17 EM4 sudah jadi.
CARA ke- 5
Bahan – bahan :
Gula pasir/merah = 1kg
Terasi = ¼ kg
Dedak = 1 ½ kg
Ragi tape = 15 butir
Air biasa = 5 liter
Cara Pembuatan :
Air di rebus sampai mendidih lalu angkat dari tungku lalu campur terasi, dedak dan gula pasir aduk samapi rata. Tunggu 3-4 jam setelah larutan dingin lalu masuk kan ragi tape yang sudah di tumbuk halus. Masukkan dalam ember tertutup rapat simpan di tempat lembab. Kurang lebih 15 hari EM4 siap di gunakan.
Bahan – bahan :
Gula pasir/merah = 1kg
Terasi = ¼ kg
Dedak = 1 ½ kg
Ragi tape = 15 butir
Air biasa = 5 liter
Cara Pembuatan :
Air di rebus sampai mendidih lalu angkat dari tungku lalu campur terasi, dedak dan gula pasir aduk samapi rata. Tunggu 3-4 jam setelah larutan dingin lalu masuk kan ragi tape yang sudah di tumbuk halus. Masukkan dalam ember tertutup rapat simpan di tempat lembab. Kurang lebih 15 hari EM4 siap di gunakan.
APA SAJA APLIKASI EM-4 DI BIDANG PERTANIAN?
Manfaat :
Memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi.
Memfermentasi dan mendekomposisi bahan organik tanah dengan cepat (Bokashi).
Menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Meningkatkan keragaman mikroba yang menguntungkan di dalam tanah.
Tanaman
Padi, Palawija, Sayuran, bunga dan tanaman setahun lainnya.
Dosis dan Perlakuan
Sebagai pupuk dasar, gunakan BOKASHI sebanyak 3-5 ton per Ha. Untuk penyemprotan gunakan EM-4 sebanyak 3-10 ml per liter air dilakukan setiap satu minggu sekali, disemprotkan secara merata ke tanah dan tubuh tanaman.
APA SAJA APLIKASI EM-4 DI BIDANG PETERNAKAN?
Manfaat :
Mengurangi polusi bau khususnya pada kandang ternak dan lingkungan sekitarnya.
Mengurangi stres pada ternak
Menyehatkan ternak
Menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak
Meningkatkan nafsu makan ternak
Menekan penyakit pada ternak
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ternak
Cara Pemakaian :
Sebagai air minum ternak, Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air minum setiap hari.
Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air, kemudian disemprotkan ke dalam pakan ternak.
Untuk mencegah bau kotoran dan kandang ternak, larutkan EM-4 dan Molas ke dalam air dengan perbandingan 1:1:100 kemudian disimpan dalam tempat yang tertutup rapat selama 1-2 hari kemudian dipergunakan untuk menyemprot kandang dan pada badan ternak dengan dosis 10 cc larutan dalamn 1 liter air.
Mengurangi polusi bau khususnya pada kandang ternak dan lingkungan sekitarnya.
Mengurangi stres pada ternak
Menyehatkan ternak
Menyeimbangkan mikroorganisme di dalam perut ternak
Meningkatkan nafsu makan ternak
Menekan penyakit pada ternak
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ternak
Cara Pemakaian :
Sebagai air minum ternak, Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air minum setiap hari.
Larutkan 1 cc EM-4 per satu liter air, kemudian disemprotkan ke dalam pakan ternak.
Untuk mencegah bau kotoran dan kandang ternak, larutkan EM-4 dan Molas ke dalam air dengan perbandingan 1:1:100 kemudian disimpan dalam tempat yang tertutup rapat selama 1-2 hari kemudian dipergunakan untuk menyemprot kandang dan pada badan ternak dengan dosis 10 cc larutan dalamn 1 liter air.
APA SAJA APLIKASI EM-4 DI BIDANG
PERIKANAN?
Manfaat :
Memperbaiki mutu air tambak.
Menguraikan bahan-bahan sisa makanan, kotoran udang / ikan menjadi senyawa organik yang bermanfaat.
Menekan serangan mikroorganisme patogen.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tambak.
Menekan hama dan penyakit
Cara Pemakaian :
Pada saat pengolahan dasar tambak diberikan Bokashi sebanyak 5 ton/ha, selanjutnya disiram larutan EM-4 sebanyak 4 liter/ha dan dibiarkan selama 2 minggu.
Pada saat masa pertumbuhan diberikan EM-4 sebanyak 16 liter per hektar.
Interval waktu pemberian EM-4 adalah 1 bulan sekali atau tergantung pada kondisi air tambak
Manfaat :
Memperbaiki mutu air tambak.
Menguraikan bahan-bahan sisa makanan, kotoran udang / ikan menjadi senyawa organik yang bermanfaat.
Menekan serangan mikroorganisme patogen.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tambak.
Menekan hama dan penyakit
Cara Pemakaian :
Pada saat pengolahan dasar tambak diberikan Bokashi sebanyak 5 ton/ha, selanjutnya disiram larutan EM-4 sebanyak 4 liter/ha dan dibiarkan selama 2 minggu.
Pada saat masa pertumbuhan diberikan EM-4 sebanyak 16 liter per hektar.
Interval waktu pemberian EM-4 adalah 1 bulan sekali atau tergantung pada kondisi air tambak
CARA PEMBIAKAN BAKTERI EM-4
Bagi kita-kita mahasiswa yang ingin menghemat biaya untuk pembelian EM4, anda bisa mengembangbiakan bakteri tersebut sendiri di rumah, sehingga bila kebutuhan akan pupuk organik cukup banyak dikarenakan luas lahan yang besar maka akan segera terpenuhi tanpa biaya tambahan.
Sebenarnya cara pengembangbiakan bakteri ini cukup banyak antara lain :
Sebelum ke tahap lebih lanjut silahkan kita sediakan bahan untuk prakteknya diantaranya :
1 liter bakteri yang akan diperbanyak
Siapkan sedikitnya 3 kg bekatul (jangan sampai kurang)
Siapkan ¼ kg gula merah bila tidak ada bisa pakai gula pasir atau tetes tebu, salah satu aja
Siapkan ¼ kg terasi
Siapkan 5 liter air
Setelah semua bahan diatas tersedia, kini kita harus menyiapkan bahan untuk media pembiakan, diantaranya :
Ember plastik
Pengaduk atau centong
Panci untuk pemasak air
Botol plastik atau kaca penyimpan
Siapkan Saringan dari kain atau kawat kasa
Bila bahan sudah semua terkumpul kini waktunya kita membuat adonan, kita bisa memulai dengan poin- poin sebagai berikut :
Air yang 5 liter tadi dimasak sampai benar-benar mendidih.
Setelah air mendidih kita bisa memasukkan terasi, bekatul dan gula, untuk yang memakai gula merah harus dihancurkan dulu sampai halus, lalu aduk adonan hingga rata.
Setelah adonan benar-benar rata lalu dinginkan sampai benar-benar dingin, bila tidak benar-benar dingin, adonan justru akan membunuh biang bakteri yang akan kita biakkan.
Bila sudah benar-benar dingin Mulai masukkan bakteri dan aduk adonan sampai benar-benar rata. Lalu ditutup rapat selama 2 hari dua malam.
Mulai hari ketiga tutup agak dilonggarkan dan diaduk rutin setiap hari sekitar 10 menit.
Bila sudah jadi yaitu sekitar 3-4 hari bakteri hasil pengembangan ini sudah bisa diambil dengan disaring memakai saringan, kemudian disimpan dalam botol yang sudah kita sediakan tadi, usahakan jangan ditutup terlalu rapat, atau biarkan saja botol terbuka, ini dimaksudkan agar bakteri tetap mendapatkan oksigen yang baik.
Tahap terakhir, botol bakteri tersebut siap untuk digunakan untuk membuat kompos atau pupuk cair maupun pupuk hijau.
Ampas hasil saringan jangan dibuang karena dapat kita gunakan lagi untuk membiakkan tahap selanjutnya, kita tinggal menyiapkan air kurang lebih 1 liter lalu menambahkan air matang dingin dan gula.
APA SAJA KEGUNAAN LAIN EM4?
Selain untuk pembuatan bokashi, EM4 dapat juga digunakan sebagai pestisida organic seperti EM5, super EM5, EMRAS dan pestisida alami dari ekstrak tanaman. EM5 digunakan sebagai pestisida untuk penanggulangan hama dan penyakit tahap awal. Sedangkan Super EM5 digunakan untuk menanggulangi hama dan penyakit pada tahap kronis.
EM5 DAN SUPER EM5
Bahan yang digunakan :
Molases/gula, cuka makan/cuka aren 5%, alcohol 40% masing-masing sebanyak 100 ml.
EM4 100 ml dan air sebanyak 1 liter. (Khusus untuk pembuatan super EM5 tidak digunakan air).
Cara pembuatan :
Semua bahan dimasukkan ke dalam botol/jerigen. Selama 15 hari selanjutnya wadah dikocok pada pagi dan sore harinya. Unttuk membebaskan gas yang terbentuk selama proses fermentasi, tutup botol dibuka sebentar.
Kegiatan pengocokan dihentikan pada hari ke 15 setelah tidak ada lagi gas yang terbentuk. Selanjutnya dibiarkan selama tujuh hari. Selanjutnya EM5 dapat digunakan.
Dosis pemakaian :
EM5: 10-50 ml (2-10 sdm)/l air + 10-50 ml molasses.
Super EM5: 5 ml (1 sdm)/l air + 5 ml molasses.
Waktu pengaplikasian :
Waktu pengaplikasian EM5 dan super EM5 sebaiknya dilakukan pada sore hari. EM5 dan super EM5 digunakan paling lama tiga bulan.
EMRAS (EM4 dengan air beras)
Bahan yang digunakan :
bahan yang digunakan terdiri dari air beras sebanyak 1 l, molasses\gula sebanyak 10 ml dan EM4 sebanyak 10 ml (2 sdm).
Cara pembuatan dan aplikasi :
Bahan-bahan tersebut di atas dicampurkan semuanya dan selanjutnya dibiarkan selama dua hari. Setelah itu EMRAS dapat diaplikasikan. Namun EMRAS harus sudah habis diaplikasikan pada hari ketiga (satu hari setelah proses pembuatan selesai). Selain sebagai pestisida, EMRAS dapat juga digunakan sebagai pupuk.
Dosis pemakaian :
Dosis yang digunakan adalah 5 ml/l air.
PESTISIDA ALAMI DARI EKSTRAK TANAMAN
Bahan yang digunakan :
Daun legum/kacang-kacangan (kacang babi), terutama yang masih muda.
EM4 sebanyak 20 ml/l air.
Cara pembuatan :
Daun-daunan dicincang dan selanjutnya diberi larutan EM4. Bahan selanjutnya direndam selama 3-5 hari. Selama direndam bahan ditutupi dengan plastik hitam. Setelah lima hari larutan dapat digunakan sebagai pestisida.
Mudah dan bermanfaat bukan? Ayo buruan. Nggak pantas di
negara kita yang kaya ini orangnya miskin, bau dan kumuh. Do it now, yo will
get it.
UJIAN
ETIKA DAN NILAI LINGKUNGAN
Dosen
Pembimbing :
PROF.SUPLI EFFENDI RAHIM,PhD,
M.Sc
Disusun Oleh
HAWATRIANA
NPM:12.13101.10.01
PROGRAM PASCA
SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
STIK BINA HUSADA PALEMBANG
2013
SOAL UJIAN NILAI DAN ETIKA LINGKUNGAN
Tuesday, March 26, 2013 4:20 AM
JAWAB SOAL-SOAL BERIKUT DI BLOG MASING-MASING.
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ekosistem?
rincikan ekosistem apa saja yang ada di bumi dan di sekitar anda... lengkapi
dengan gambar
2.
Apa yang dimaksud dengan nilai lingkungan? lengkapi dengan bagaimana
mengkuantifikasi nilai lingkungan,
3. Jelaskan jenis-jenis etika lingkungan yang
anda ketahui. Jelaskan bagaimana strategi penerapan etika lingkungan itu
4. Jelaskan mengapa menggunakan blogspot ini
merupakan bukti komitmen bahwa kita mendukung perwujudan kebijakan pemerintah
dalam e-government di sau sisi dan mengeksperisikan etika kita terhadap lingkungan.
Lengkapi dengan arguimen ilmiahnya.
5. Mengapa jejak ekologis itu merupakan gambaran
apakah seseorang itu menyumbang terhadap kerusakan lingkungan atau tidak?
6. Sudahkah anda membuat dan mengelola dengan
baik? Nilai anda juga sangat ditentukan dengan pengelolaan blogspot anda
JAWAB
1.
A.Pengertian Ekosistem :
- Adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas dan produktifitas lingkungan hidup.
- Tatanan keseluruhan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidupyang saling mempengaruhi.
- Keseluruhan fungsi perubahan maupun interaksi dari suatu tatanan yang homogen
B. Jenis-jenis Ekosistem
1. Ekosistem akuatik (air)
a. Ekosistem air tawar
1) Ekosistem air tawar Lotik : airnya berarus, berarti airnya senantiasa mengalir. Contoh dari ekosistem air tawar lotik sering kita jumpai di sekitar kita. Misalnya : Sungai, dan selokan.

Gambar. 1
Sungai merupakan contoh ekosistem air tawar lotik.
Sumber : Aryulina, Diah (2007 : 275)
2) Ekosistem air tawar lentik : airnya tidak berarus, ini berarti airnya tidak mengalir. Contohnya : Danau, rawa air tawar, kolam, rawa gambut.
Gambar. 2
Hutan Rawa Gambut
Sumber : http://www.lablink.or.id/Env/Hutan/HutanKlasifikasi/htnrawag.jpg
Gambar. 3
Danau Toba
Sumber : http://katakdankodokbersaudara.files.wordpress.com/2009/05/danau-toba.jpg
Ekosistem danau dan kolam terdiri dari 3 wilayah horizontal yaitu :
a) Wilayah Litoral adalah merupakan wilayah perairan dangkal di sepanjang tepi danau dan kolam. Contohnya : Hydrylla, Hydra, capung, katak, burung, dan tikus.
b) Wilayah Limnetik adalah wilayah perairan terbuka yang masih bisa di tembus oleh cahaya matahari. Contohnya : Zooplankton dan Fitoplankton.
c) Wilayah Profundal adalah daerah yang dalam, dengan berbagai jenis dekomposer pada bagian dasarnya.
b. Ekosistem Laut
1. Ekosistem akuatik (air)
a. Ekosistem air tawar
1) Ekosistem air tawar Lotik : airnya berarus, berarti airnya senantiasa mengalir. Contoh dari ekosistem air tawar lotik sering kita jumpai di sekitar kita. Misalnya : Sungai, dan selokan.
Gambar. 1
Sungai merupakan contoh ekosistem air tawar lotik.
Sumber : Aryulina, Diah (2007 : 275)
2) Ekosistem air tawar lentik : airnya tidak berarus, ini berarti airnya tidak mengalir. Contohnya : Danau, rawa air tawar, kolam, rawa gambut.
Gambar. 2
Hutan Rawa Gambut
Sumber : http://www.lablink.or.id/Env/Hutan/HutanKlasifikasi/htnrawag.jpg
Gambar. 3
Danau Toba
Sumber : http://katakdankodokbersaudara.files.wordpress.com/2009/05/danau-toba.jpg
Ekosistem danau dan kolam terdiri dari 3 wilayah horizontal yaitu :
a) Wilayah Litoral adalah merupakan wilayah perairan dangkal di sepanjang tepi danau dan kolam. Contohnya : Hydrylla, Hydra, capung, katak, burung, dan tikus.
b) Wilayah Limnetik adalah wilayah perairan terbuka yang masih bisa di tembus oleh cahaya matahari. Contohnya : Zooplankton dan Fitoplankton.
c) Wilayah Profundal adalah daerah yang dalam, dengan berbagai jenis dekomposer pada bagian dasarnya.
b. Ekosistem Laut
Gambar. 4
Ekosistem laut dibagi menjadi tiga zona,
yaitu zona litoral, zona laut dangkal, dan zona pelagik.
Sumber : Aryulina, Diah (2007 : 275).
Ekosistem laut dibagi menjadi tiga zona (wilayah), yaitu :
1) Zona litoral.
a) Ekosistem Estuari
Merupakan wilayah perairan tempat pertemuan antara sungai dan laut atau disebut muara sungai. Muara sungai disebut pantai lumpur.
Estuari mempunyai ciri berair payau dengan tingkat salinitas di antara air tawar dan laut. Vegetasi didominasi oleh tumbuhan bakau dan rumput laut. Beberapa organisme laut melakukan perkambangbiakan di wilayah ini seperti ikan, udang dan moluska yang dapat dimakan. Estuari banyak terdapat di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Ekosistem laut dibagi menjadi tiga zona,
yaitu zona litoral, zona laut dangkal, dan zona pelagik.
Sumber : Aryulina, Diah (2007 : 275).
Ekosistem laut dibagi menjadi tiga zona (wilayah), yaitu :
1) Zona litoral.
a) Ekosistem Estuari
Merupakan wilayah perairan tempat pertemuan antara sungai dan laut atau disebut muara sungai. Muara sungai disebut pantai lumpur.
Estuari mempunyai ciri berair payau dengan tingkat salinitas di antara air tawar dan laut. Vegetasi didominasi oleh tumbuhan bakau dan rumput laut. Beberapa organisme laut melakukan perkambangbiakan di wilayah ini seperti ikan, udang dan moluska yang dapat dimakan. Estuari banyak terdapat di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Gambar. 5
Estuari
Sumber : http://www.alzinar.com/imatges/biomes/estuari
b) Ekosistem Pantai Pasir
Ekosistem dengan deburan ombak yang konstan dan terkena paparan cahaya matahari selama 12 jam. Vegetasi ada yang berbentuk terna atau membentuk perdu atau pohon. Terna adalah tumbuhan berbiji yang memiliki batang lunak dan tidak berkayu, misalnya rumput, kangkung, dan pisang.
c) Ekosistem Pantai Batu
Tersusun dari komponen abiotik berupa batu-batuan kecil maupun bongkahan batu yang besar. Organisme yang terdapat pada pantai batu seperti ganggang Eucheuma dan Sargassum.
Gambar. 6
Ekosistem Pantai Batu
Sumber : http://img.photobucket.com/albums/v417/sandro_utji/Didesa%20Resort/DCP_0671.jpg
2) Zona Laut Dangkal
a) Ekosistem Terumbu Karang,
Hanya dapat tumbuh di dasar peraiaran yang jernih, terumbu karang terbentuk dari rangka hewan Coelenterata. Organisma yang terdapat pada ekosistem ini adalah kelompok Porifera, coelenterata, ganggang, beberapa jenis ikan, serta udang.
Gambar. 7
Ekosistem terumbu Karang
Sumber : Aryulina, Diah (2007 : 276)
3) Zona pelagik.
a) Ekosistem Laut Dalam
Merupakan zona pelagik laut. Ekosistem ini berda pada kedalaman 76000 m dari permukaan laut. Sehingga tidak ada lagi cahaya matahari, oleh karena itu produsen utama di ekosistem ini merupakan organisme kemoautrotof.
Gambar. 8
Ekosistem Laut Dalam
Sumber : http://images.aad.gov.au/img.py/1e10.jpg
c. Ekosistem Darat
1) Hutan Hujan Tropis
a) Terdapat di wilayah khatulistiwa
b) Temperatur tinggi (rata-rata 25 0c)
c) Curah hujan tinggi 200-450 cm per tahun
d) Pohon tinggi dan rimbun (kanopi)
e) Jenis tumbuhan sangat beragam termasuk tumbuhan paku dan anggrek.
f) Hewan pada hutan hujan tropis di indonesia antara lain : berbagai jenis serangga dan burung, monyet, orang utan dan harimau.
Gambar. 9
Hutan Hujan Tropis
Sumber : http://tigerbear.files.wordpress.com/2007/11/tangkah3.jpg
2) Savana
a) terdapat di wilayah sekitar khatulistiwa
b) curah hujan lebih 90-150 cm per tahun
c) Vegetasi savanna didominasi oleh rumput dan pohon yang tumbuh terpencar.
d) Hewan yang hidup di savanna adalah berbagai jenis sderangga seperti belalang, kumbang, rayap, herbivora dan karnivora.
Gambar. 10
Savanna
Sumber : http://onlynatural.files.wordpress.com/2008/09/800px-male_lion_on_savanna.jpg
3) Padang Rumput
a) Terdapat pada wilayah dengan temperatur sedang.
b) cuirah hujan 25-75 cm per tahun
c) vegetasi yang dominan adalah rumput
d) hewan yang hidup antara lain kelinci, tupai tanah dan serigala.
Gambar. 11
Padang Rumput
Sumber : http://chinatour.net/images/grassland.jpg
4) Gurun
a) Terdapat di belahan bumi sekitar 20-30 LU dan LS
b) Curah hujan kurang dari 25 cm per tahun
c) Vegetasi terdiri dari berbagi belukar akasia, tumbuhan sukulen dan kaktus.
d) Hewan yang banyak terdapat di gurun antar lain belalang, burung pemangsa serangga dan kadal.
Gambar. 12
Bioma Gurun
Sumber : http://andimanwno.files.wordpress.com/2009/01/gurun-02.jpg
5) Hutan Gugur
a) Terdapat di sekitar wilayah sub tropis yang mengalami pergantian musim panas dan tropis
b) Curah hujan sedang yaitu 75-150 cm per tahun
c) Pohon pada hutan gugur sub tropis memiliki ciri menggugurkan daunnya menjelang musim gugur dan menjadi dorman pada musim dingin. (maple dan birkin)
d) Hutan gugur di daerah tropis menggugurkann daun pada musim kemarau, misalnya hutan jati.
Gambar. 13
Bioma Hutan Gugur
Sumber : http://andimanwno.files.wordpress.com/2009/02/hutan-gugur-01.jpg
6) Taiga
a) Terdapat di wilayah utara hutan gugur sub tropis dan juga di pegunungan sub tropis
b) Musim dingin yang panjang. Huajn turun hanya pada musim panas
c) Taiga merupakan hutan pinus (konifer) yang selalu hijau.
d) Hewan yang hidup antara lain rusa, bajing, burung gagak hitam, serigala, dan beruang.
Gambar. 14
Sumber : http://www.centraliahs.org/personnel/teachers_faculty/science/becker/biome%20web%20page/taiga.jpg
7) Tundra
a) Terdapat di dekat kutub utara, yaitu pada 60 0 LU (tundra artik), sedangkan tundra yang terdapat di puncak gunung (tundra alpin)
b) Vegetasi tundra didominasi oleh rumput alang-alang, lumut daun dan perdu, pada wilayah ini tidak terdapat pohon
c) Hewan yang terdapat di tundra adalah kelinci, burung hantu, serigala, rusa dan domba
Gambar. 15
Tundra
Sumber : http://andimanwno.files.wordpress.com/2009/02/tundra-011.jpg
d. Ekosistem Buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
Contoh : bendungan, sawah tadah hujan, sawah irigasi, perkebunan sawit, dll.
Gambar. 16
Bendungan Jati Luhur
Sumber : http://hmjsipiluph.files.wordpress.com/2007/09/bendungan-jatiluhur.jpg
2.
Nilai
lingkungan berkaitan dengan dasar dan justifikasi kebijakan lingkungan.
·
Hal ini bertujuan untuk membawa
bersama-sama kontribusi dari filsafat, hukum, ekonomi dan disiplin lainnya,
yang berhubungan dengan lingkungan sekarang dan masa depan manusia dan spesies
lainnya, dan untuk memperjelas hubungan antara isu-isu kebijakan praktis dan
prinsip-prinsip dasa yang lebih fundamental atau asumsi.
·
Pengertian
Nilai
ü dalam bahasa Inggris adalah value. Nilai masuk dalam bidang kajian
filsafat, yaitu filsafat nilai. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai
untuk menunjukan kata benda yang abstrak, yang artinya worlh (keberhargaan)
atau goodness (kebaikan)
ü Menurut Ralp
Perry: “Value as any object of any interest”. Maknanya adalah bahwa
nilai sebagai suatu objek dari
suatu minat individu.
ü Kupperman
mendefinisikan nilai adalah patokan normatif yang memperngaruhi manusia dalam
menentukan pilihannya
di antara cara-cara tindakan alternatif.
Ø Pengertian
Lingkungan
Adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan
tak hidup di alam, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang
berlebihan atau kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya ada manusia dan
segala tingkah lakunya demi melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan
manusia maupun mahkluk hidup lainnya yang ada di sekitarnya.
Ø Pengertian
Nilai Lingkungan
Nilai
lingkungan artinya ada kandungan yang terdapat dalam lingkungan. Lingkungan
yang mempunyai nilai positif, berharga dan dipentingkan dengan sebaik-baiknya,
dimana artinya yang berkarakter dan mendukung terciptanya perwujudan
nilai-nilai lingkungan dalam menunjang kehidupan, sepeti karakter cinta pada
Sang Maha Pencipta dan segenap ciptaan-Nya. Begitupun sebaliknya. Jadi nilai
lingkungan yang berharga tersebut sangatlah penting bagi perkembangan semua
makhluk untuk bertahan hidup dan untuk beribadah pada Sang Pencipta.
Ø
Pengertian Kuantifikasi
Adalah keterangan yang berhubungan dengan kuantitas atau
jumlah.
Misalnya setiap, beberapa, semua.
Ø Cara
Mengkuantifikasi Nilai Lingkungan
ü Dengan
meyakini bahwa semua cara kita memelihara nilai lingkungan akan berguna
bagi kelangsungan hidup yang lebih baik dimasa mendatang.
ü
Setiap kebaikan yang kita lakukan untuk lingkungan akan sangat
bermanfaat bagi kelestarian lingkungan dimasa depan, sekecil apapun itu,
3. Jenis-Jenis
Etika Lingkungan
·
Pengertian Etika Lingkungan
Ø Etika Lingkungan berasal dari dua
kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa
yunani yaitu “Ethos” yang berarti
adat istiadat atau kebiasaan.
Ø Ada tiga teori mengenai pengertian
etika, yaitu:
1
Etika
Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah
tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban.
2
Etika
Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat
suatu tindakan.
3
Etika
keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap
orang.
·
Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi
kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara
langsung maupun secara tidak langsung.
·
Jadi,
etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan
lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut
lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap
terjaga
.
·
Jenis-Jenis Etika Lingkungan
Etika
Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan dan
menjadi dua yaitu etika ekologi
dalam dan etika ekologi dangkal. Selain itu etika
lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika pelestarian dan etika
pemeliharaan. Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan
pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika pemeliharaan
dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan
semua makhluk.
a.
Etika Ekologi Dangkal
Etika ekologi dangkal adalah pendekatan
terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk
kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris
Jenis etika antroposentris.
1.
Etika
antroposentris yang menekankan segi estetika alam (etika lingkungan harus dicari pada kepentingan manusia,
secara khusus kepentingan estetika).
2.
Etika
antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus (mendasarkan etika lingkungan pada perlindungan atau
konservasi alam yang ditujukan untuk generasi penerus manusia).
Etika
ekologi dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan
humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut
oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki
pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Secara
umum, Etika ekologi dangkal ini menekankan hal-hal
berikut ini :
1.
Manusia
terpisah dari alam.
2. Mengutamakan
hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung
jawab
manusia.
3.
Mengutamakan
perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya.
4.
Kebijakan
dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia.
5.
Norma
utama adalah untung rugi.
6.
Mengutamakan
rencana jangka pendek.
7.
Pemecahan
krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya
dinegara miskin.
8.
Menerima
secara positif pertumbuhan ekonomi.
b.
Etika Ekologi Dalam
·
Etika ekologi dalam adalah
pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan
sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur
mempunyai arti dan makna yang sama. Etika Ekologi ini memiliki prinsip yaitu bahwa
semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki hak untuk
menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup dan hak untuk
berkembang. Premisnya adalah bahwa lingkungan moral harus melampaui spesies
manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas. Komunitas yang lebih luas
disini maksudnya adalah komunitas yang menyertakan binatang dan tumbuhan serta
alam.
·
Secara umum etika ekologi
dalam ini menekankan hal-hal berikut :
1.
Manusia
adalah bagian dari alam.
2.
Menekankan
hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan oleh manusia,
tidak boleh diperlakukan
sewenang-wenang.
3.
Prihatin
akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-
wenang.
4.
Kebijakan
manajemen lingkungan bagi semua mahluk.
5.
Alam
harus dilestarikan dan tidak dikuasai.
6.
Pentingnya
melindungi keanekaragaman hayati.
7.
Menghargai
dan memelihara tata alam.
8.
Mengutamakan
tujuan jangka panjang sesuai ekosistem.
9.
Mengkritik
sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem alternatif yaitu
sistem mengambil sambil
memelihara.
Jenis-jenis
etika lingkungan dalam.
1.
Etika
Neo-Utilitarisme. Etika ini merupakan pengembangan
etika utilitarisme Jeremy Bentham yang dipelopori Pete Singer yang menekankan
kebaikan untuk semua sehingga kebaikan etika lingkungan ditujukan untuk seluruh
mahluk.
2.
Etika
Zoosentrisme. Etika ini menekankan perjuangan
hak-hak binatang (pembebasan binatang) dengan tokoh Charles Brich.
Menurut etika ini, binatang memiliki hak menikmati kesenangan karena mereka
dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan dan menjadikan rasa
senang/penderitaan binatang sebagai salah satu standar moral.
3.
Etika
Biosentrisme. Etika ini menekankan
kehidupan sebagai standar moral dengan salah satu tokohnya adalah Kenneth
Goodpaster. Hal yang dijadikan tujuan bukanlah rasa senang atau menderita
tetapi kemampuan atau kepentingan untuk hidup. Dengan menjadikan kepentingan
untuk hidup sebagai standar moral, maka yang dihargai secara moral bukan hanya
manusia dan hewan, melainkan seluruh makhluk hidup yang ada.
4.
Etika
Ekosentrisme. Etika ekosentrisme menekankan
keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem. Setiap individu
mamiliki keterkaitan satu sama lain secara mutual dan memandang bumi sebagai
suatu pabrik terintegrasi berisi organsime yang saling membutuhkan, saling
menopang dan saling memerlukan. Kematian dan kehidupan haruslah diterima secara
seimbang. Hukum alam memungkinkan mahluk saling memangsa diantara semua
spesies. Ini menjadi alasan mengapa manusia boleh memakan unsur-unsur
yang ada di alam, seperti binatang maupun tumbuhan. Menurut salah satu
tokohnya, John B. Cobb, etika ekosentrisme mengusahakan keseimbangan antara
kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan dalam ekosistem.
5.
Hak Asasi Alam. Makhluk hidup selain manusia tidak memiliki hak pribadi, namun
makhluk hidup membutuhkan ekosistem atau habitat untuk hidup dan berkembang.Makhluk
hidup seperti binatang dan tumbuhan juga mempunyai hak, meskipun mereka tidak
dapat bertindak yang berlandaskan kewajiban. Mereka ada dan tercipta untuk
kelestarian alam ini. Maka mereka juga mempunyai hak untuk hidup. Hak itu harus
dihormati berdasar prinsip nilai intrinsik yang menyatakan bahwa setiap entitas
sebagai anggota komunitas bumi bernilai. Dengan demikian, pembabatan hutan
secara tidak proporsional dan penggunaan binatang sebagai obyek eksperimen
tidak dapat dibenarkan.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan
penerapan etika lingkungan sebagai berikut:
1
Manusia
merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehngga perlu
menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.
2
Manusia
sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk emnjaga
terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.
3
Kebijaksanaan
penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.
4
Lingkungan disediakan bukan untuk
manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.
5
Etika
Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun
juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara
manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia
dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.
4
Dengan
menggunakan blogspot ini merupakan bukti komitmen bahwa kita mendukung
perwujudan kebijakan pemerintah dalam e-government di satu sisi dan
mengeksperisikan etika kita terhadap lingkungan untuk bersama-bersama menjaga
kelestarian lingkungan. Kalau setiap tugas menggunakan kertas maka memperparah
terjadi kerusakan lingkungan.Karena kertas dihasilkan dari kayu. Hal ini dapat
menyebabkan lingkungan hidup akan terganggu yang akan merugikan kita semua.Lingkungan
hidup bukanlah obyek untuk dieksploitasi secara tidak bertanggung jawab, tetapi
harus ada suatu kesadaran bahwa antara manusia dan lingkungan terdapat adanya
relasi yang kuat dan saling mengikat. Rusaknya lingkungan hidup akan berakibat
pada terganggunya kelangsungan hidup manusia. Karena itu setiap kali kita mengeksploitasi
sumberdaya dari alam yang diciptakan oleh Tuhan, kita harus memperhitungkan
dengan seksama manfaat apa yang akan dihasilkannya bagi kemaslahatan manusia.
Dengan demikian pemanfaatan ini tetap dalam tujuan transformasi menjadi manusia
yang merdeka, cerdas, dan setara satu dan lainnya.
5
Ya,benar.
Jejak ekologis itu merupakan gambaran apakah seseorang itu menyumbang terhadap
kerusakan lingkungan.
Karena Secara sederhana jejak ekologi adalah jumlah global hektar yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan seseorang selama satu tahun, mulai dari untuk makan, papan, sandang, pendidikan, transportasi, dll.Metode ini mempermudah kita melihat hubungan sebab akibat dari tindakan atau gaya hidup manusia terhadap kemampuan bumi dalam menopang kebutuhannya di dunia ini secara kuantitatif. Sehingga kita dapat mengetahui seberapa boros, seberapa banyak kita menghasilkan limbah dan seberapa berbahaya limbah yang kita hasilkan, hingga menyangkut penjuml ahan total lahan yang diperlukan untuk menyediakan makanan, perumahan, transportasi, bahan-bahan konsumsi yang lain, serta pelayanan yang kita gunakan. Namun tidak semua lahan bisa berfungsi untuk menunjang kehidupan kita secara berkelanjutan. Oleh karena itu Jejak Ekologi hanya mengukur lahan yang mampu berproduksi dan mengelola limbah secara alami, atau yang disebut lahan produktif biologis.
Semakin kaya seseorang maka akan semakin tinggi menyumbang terhadap kerusakan alam.Hal ini disebabkan oleh kemampuan orang tersebut dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.Yang berpengerah terhadap kerusakan alam
6. Sudahkah anda membuat dan mengelola dengan
baik? Nilai anda juga sangat ditentukan dengan pengelolaan blogspot anda
Ya saya
sudah merasakan banyak sekali manfaat dari blog ini antara lain: untuk membuat
catatan kuliah, berbagi ilmu, pengalaman,biodata pribadi.Dan yang paling
penting pembuatan tugas-tugas kuliah melalui blog sehingga lebih hemat
kertas,ramah lingkngan sehingga dapat sedikit memberikan andil mengurangi beban
limbah yang dihasilkan.Generasi kita yang akan datang mudah-mudahan dapat
menikmati sumber daya alam tanpa perlu membayar mahal karena ulah kita….amin
Friday, 29 March 2013
pendahuluan - buku e-gov
Bab 1
PENDAHULUAN
Topik-topik kecil:
Pelayanan publik Allah
Sejarah e-government
Model penyampaian e-gov
Manfaat e-government
1.1
Pelayanan Publik Allah
Bismillah. Pembaca,
sepantasnya kita selalu bersyukur kepada Allah, penguasa seluruh alam dengan
sistem pemerintahanNya yang canggih – menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi. Sepantasnya kita selalu bersyukur dan bersyukur karena selalu
dilayani dan dikelola oleh Allah hidup kita – siang malam, ketika masih muda,
ketika sudah tua dan bahkan kita mesti meyakini bahwa ketika tidak ada lagi di
dunia ini kita masih terus dilayani oleh pemilik alam semesta ini. Gambar 1.1 memberikan
gambaran kerapian pengaturan oleh Allah.
Bisa dibayangkan bagaimana
zat Allah, sebagai kepala pemerintahan yang berada di arasy melakukan
pemerintahanNya yang luasnya meliputi seluruh langit dan bumi, meliputi seluruh
makhluk yang jumlahnya tak terhingga – ada dari jenis jin dan malaikat,
manusia, binatang, tumbuhan dan unsur mikrobia di tanah, di air, di laut dan di
udara. Jenis-jenis kehidupan itu baik yang ada di langit maupun di bumi itu
semuanya diatur, dilayani dan dikelola dengan suatu tata kelola pemerintahan
yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Tidak secara manual, tidak
juga dengan teknologi sederhana. Semua berlangsung secara otomatis dan semua
serba canggih. Bisa dibayangkan bagaimana Tuhan mengatur nasib manusia di bumi
ini (rezeki, jodoh, balak dan maut) dengan jumlah milyaran orang.

Gambar 1.1.
Bumi, jagad raya dan manusia diatur rapi oleh Allah (Google.com)
Berbeda dengan sistem
pemerintahan bumi dan langit semuanya dalam bentuk elektronik, pemerintahan di
bumi ini khususnya pada level negara, level provinsi, level kabupaten/kota dan
level kecamatan, kelurahan sampai ke level RT dan keluarga dilangsungkan secara
manual dan hanya beberapa dasa warsa mulai menggunakan teknologi modern dalam
hal ini TIK (teknologi informasi dan komunikasi) (Gambar 1.2).
1.2 Sejarah e-government
Sejak dasawarsa 1990-an
beberapa negara di dunia mulai menggunakan sistem pemerintahan menggunakan
elektronik. Tercatat negara-negara seperti Amerika Serikat, Selandia Baru,
Kanada, Singapura dan beberapa negara seperti Jepang, Australia dan Inggris
telah menggunakan sistem pemerintahan menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi.

Gambar
1.2 Teknologi informasi dan komunikasi
(google.com)
Penggunaan TIK oleh
pemerintah pada dasarnya adalah untuk memberikan warga negaranya dengan akses
yang lebih nyaman ke informasi dan layanan pemerintah serta untuk memberikan
pelayanan publik kepada warga, mitra bisnis, dan mereka yang bekerja di sektor
publik. Bagian awal dari pelaksanaan e-governance adalah
"komputerisasi" dari kantor publik memungkinkan mereka dengan
membangun kapasitas mereka untuk pelayanan yang lebih baik dan membawa
pemerintahan yang baik menggunakan teknologi sebagai katalisator. Bagian kedua
adalah penyediaan jasa sentris warga melalui media digital seperti mengembangkan
portal pemerintah interaktif.
Sejak beberapa tahun
yang lalu tepatnya pada tahun 2003 pemerintah RI telah mengeluarkan Instruksi
Presiden No. 03 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Pengembangan
e-government di Indonesia. Sejak itu kebanyakan bahkan semua instansi
departemen di tingkat pusat hingga ke daerah-daerah mulai membangun dan
mengembangkan sistem pemerintahan elektronik atau yang dikenal dengan e-government.
Pemerintahan elektronik
atau e-government adalah penggunaan
teknologi informasi dan komunikasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi
dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan
dengan pemerintahan (Gambar 1.3) e-government dapat diaplikasikan pada institusi-institusi
legislatif, yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi
internal, menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang
demokratis.

Gambar
1.3 Model keterpaduan dalam
e-gavernance (google.com)
1.3 Model Penyampaian E-gov
Model
penyampaian (relasi) yang utama adalah Government-to-Citizen atau
Government-to-Customer (G2C), Government-to-Business (G2B) serta
Government-to-Government (G2G). Keuntungan yang paling diharapkan dari
e-government adalah peningkatan efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang
lebih baik dalam pelayanan publik.
Seringkali e-government
dianggap sebagai pemerintahan online ("online government") atau
pemerintahan berbasis internet ("Internet-based government"), namun banyak
teknologi pemerintahan elektronik non-internet yang dapat digunakan dalam
konteks ini. Sejumlah bentuk pelayanan publik oleh pemerintah adalah dalam
bentuk non-internet termasuk telepon, faksimili, PDA, SMS, MMS, jaringan dan
layanan nirkabel (wireless networks and services), Bluetooth, CCTV, sistem
penjejak (tracking systems), RFID, indentifikasi biometrik, manajemen dan
penegakan peraturan lalu lintas jalan, kartu identitas (KTP), kartu pintar
(smart card) serta aplikasi NFC lainnya; teknologi polling station (dimana
e-voting non-online kini dipertimbangkan), penyampaian-penyampaian layanan
pemerintahan berbasis TV dan radio, surat-e, fasilitas komunitas online,
newsgroup dan electronic mailing list, chat online, serta teknologi pesan
instan (instant messenger). Ada pula sejumlah sub-kategori dari e-government
spesifik seperti m-government (mobile government), u-government (ubiquitous
government), dan g-government (aplikasi GIS/GPS untuk e-government). Kesemua
layanan itu pada umumnya dalam rangka melakukan publikasi, interaksi dan transaksi
(Gambar 1.4) (Wikipedia).

Gamba
1.4 Jenis layanan dalam e-government (sumber
google.com)
Apakah manfaat yang
nyata dari e-government? Sejumlah manfaat dan keuntungan jika e-government
dibuat dan diterapkan oleh pemerintah (contoh portal pemerintah Singapura dan
Sragen pada Gambar-gambar 1.5. dan 1.6) adalah: (a) Memperbaiki mutu pelayanan
pemerintah kepada para stakeholder-nya (masyarakat, kalangan bisnis, dan
industri); (b) Meningkatkan transparansi, kontrol, dan akuntabilitas penyelenggaraan
pemerintahan dalam rangka penerapan konsepGood Governance di pemerintahan
(bebas KKN); (c) Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi,
daninteraksi yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholdernya untuk keperluan
aktivitas sehari-hari; (d) Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan
sumber-sumber pendapatan baru melalui interaksinya dengan pihak-pihak yang
berkepentingan; (e) Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat
secara cepat dan tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan
dengan berbagai perubahan global dan tren yang ada; dan (f) Memberdayakan
masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah dalam proses
pengambilan berbagai kebijakan publik secara merata dan demokratis.

Gambar
1.5 Contoh portal e-government infosragen.com

Gambar
1.6 Contoh portal e-citizen.sg oleh
pemerintah Singapura
Selanjutnya, buku ini
ditujukan untuk menyajikan konsep dan elemen-elemen sukses e-government, model
penyampaian e-government, kerangka arsitektur e-government, sistem informasi
nasional, kebijakan-kebijakan yang mendukung e-government, blue print (cetak biru)
e-government, penerapan e-government di berbagai belahan dunia serta hubungan
e-government dengan teknologi dan tata pemerintahan yang baik, pembuatan blog
dan email serta penutup.
Subscribe to:
Comments (Atom)













